Bagaimana Cara Nabi Ibrahim As mengajak Kaumnya Untuk Menyembah ALLAH ?

Nabi Ibrahim As mengajak kaumnya untuk menyembah Allah Yang Esa, seraya menjelaskan Keagungan Allah. Pemimpin kaum yang kafir (Raja Namrud) malah menentangnya dengan minta ditunjukkan apa saja kebesaran Allah itu. Ibrahim As menyebutkan bahwa Tuhannya bisa menghidupkan dan mematikan.

Pemuka kaum yang durhaka lalu menjawab dengan sombongnya, bahwa ia pun mampu menghidupkan dan mematikan. Ia lalu mengambil dua orang hamba sahaya, kemudian membunuh salah seorang di antara keduanya dan membiarkan hidup yang lainnya. Sampai di sini seolah-olah Ibrahim kalah debat. Sang  Nabi  kemudian  menggunakan  logika  yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh siapa pun selain Allah (dan orang yang dikehendaki oleh Allah). Ibrahim menyebutkan, bahwa Tuhannya menjalankan matahari (yang terlihat di bumi) dari arah timur ke arah barat; lalu menantang pemuka kafir itu agar memindahkan arah peredaran matahari dari arah barat ke arah timur. Tentu saja Raja Namrud tidak bisa melaksanakannya. Ia benar- benar tidak berdaya di hadapan Ibrahim dan kaumnya.

Tatkala kaumnya tidak mengindahkan seruannya, sekalipun argumentasi yang jitu telah dilontarkan dan telah mengalahkan mereka, Ibrahim lalu menggunakan argumentasi lain. Sejalan dengan tradisi bahwa pada saat itu orang-orang menyembah patung-patung.

Tatkala hari raya tiba keluarlah semua orang dari kota, sementara Ibrahim tinggal sendirian. Kesempatan ini digunakan Ibrahim untuk menghancurkan patung- patung - sebagai simbol kemusyrikan saat itu – dengan kapaknya. Sebuah patung paling besar dibiarkannya. Di leher patung itu dikalungkan kapak. Maksudnya agar semua orang yang meninggalkan kota mengambil kesimpulan, bahwa telah terjadi pertengkaran hebat di antara patung-patung, lantas masing-masing mereka berkata dalam dirinya bahwa patung yang terbesar itulah yang paling kuat. Tetapi yakin akan naluri manusia yang condong kepada yang benar, masing-masing mereka akan berkata pula bahwa tidak mungkin patung yang tidak bisa bergerak itu yang melakukannya. Hal ini akan membuat mereka tidak menerima persoalan ini lalu bergerak untuk berpikir ke arah yang benar.

Ketika orang-orang kembali ke kota dan menyaksikan apa yang terjadi dengan patung-patung (yang telah dihancurkan Ibrahim), mereka pun marah dan dengan penuh kebencian segera mencari orang yang diduga melakukan penghancuran itu. Tapi siapakah pelakunya? Tiba-tiba saja mereka teringat bahwa ada seorang pemuda yang selalu menantang tradisi mereka. Maka segeralah mereka mencari Ibrahim. Dengan logika yang sudah dipersiapkannya, Ibrahim lalu (seolah-olah) mengelak: mengapa aku yang kalian tuduh? Mengapa tidak patung yang besar itulah yang kalian salahkan?

Orang banyak pun menjawab dengan penuh sinis: Mana mungkin patung yang tidak bisa berpindah itu dapat melakukannya? Jawaban inilah yang justru ditunggu-tunggu Ibrahim untuk meluruskan logika mereka. Mendengar pernyataan kaumnya itu Ibrahim segera berkata: "Masa patung besar saja tidak bisa melakukan seperti itu, padahal kalian menganggap bahwa ia bisa menuhi kebutuhan kalian!" Nabi Ibrahim AS berhasil meluruskan logika kaum kafir. Sebagian kecil mereka beriman tapi sebagian besar lainnya tetap saja kafir.

No comments:

Post a Comment