Bagaimana Cara Nabi Muhammad SAW mengajak Kaumnya Untuk Menyembah ALLAH ?

Alkisah, ketika seorang pejabat pemerintah meninggal dunia berbagai komentar positif datang dari kolega dan kerabatnya. Ia seorang yang bijak, katanya. Ia tidak pernah berselisih dengan siapa pun. Di mata bawahan ia figur pejabat  yang suka bagi-bagi rezeki. Di mata tetangganya ia seorang yang rajin datang ke masjid dan  senang berinfaq.

Ia pun membangun masjid yang besar dan indah. Begitu semangatnya membaik-baikkan  almarhum, sampai-sampai seorang pembicara – yang tidak lain kerabatnya – mengatakan sesuatu yang sangat mengagetkan: "Almarhum ini orang yang sangat baik dan sangat bijak. Seandainya Allah SWT mendatangkan lagi seorang Nabi setelah Nabi Muhammad Saw, maka pasti almarhum inilah Nabi yang ke-26 itu!" Sebagian hadirin tampak mengangguk-anggukan kepalanya (mungkin tanda setuju) dan sebagiannya lagi tampak terperanjat dan memalingkan muka ke kiri dan kanan (mungkin tanda tidak setuju).

Di sini kita tidak akan berkomentar banyak terhadap pidato orang yang tidak mengerti Nabi Islam. Kita pun tidak mempertanyakan dari mana harta yang banyak itu ia peroleh. Di antara pertanyaan kita adalah, di manakah kedudukan khulafaur-rasyidin? Di manakah kedudukan para Wali Allah? Bagaimanakah pula kedudukan Ali bin Abi Thalib k.w. yang merupakan pintu gerbang ilmunya Nabi? Bagaimanakah pula  dengan sabda Nabi Saw yang menyebutkan bahwa kedudukan Ali di sisiku bagaikan Harun di sisi Musa  tapi tidak ada Nabi lagi sesudahku? Apakah jumlah Nabi itu hanya 25 orang, dan yang ke-26 – seandainya ada lagi Nabi – adalah adalah almarhum yang disebutkan itu?

Ungkapan senada sering kita dengar dari orang- orang yang tidak mengerti Nabi. Orang yang menganggap Nabi itu selalu lemah lembut kepada siapa pun dan tidak pernah punya musuh, maka orang itu  akan mengidolakan orang yang selalu lemah lembut kepada siapa pun dan tidak pernah punya musuh; orang yang menganggap Nabi itu pandai berceramah, menentramkan, dan tidak pernah menyinggung orang, maka orang itu akan mengidolakan orang yang pandai berceramah, menentramkan, dan tidak pernah menyinggung orang; dan seterusnya. Di sinilah perlunya kita mempelajari sejarah Nabi Muhammad Saw.

Untuk lebih menegaskan bahwa misi Islam itu tauhid dan keadilan, kita perlu merekam sosok pribadi agung teladan umat, Nabi Muhammad Saw. Misi Islam dan tujuan utama agama Islam dapat dipahami secara lebih mudah dengan mempelajari sosok pribadi agung ini, Nabi Muhammad Saw.
Al-Quran menegaskan:

·        Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan ia banyak menyebut Allah. (Qs. 33/Al-Ahzab: 21)

·        Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Qs. Al-Qalam: 4)

Kedua ayat di atas menegaskan bahwa puncak teladan Islam berada pada pribadi Rasulullah, Muhammad Saw. Dialah puncak teladan dalam dzikir dan shalat, dalam shaum, dalam zakat-infaq dan shodaqoh, dalam hajji dan `umroh, dalam berda`wah, membelajarkan umat, menyantuni anak-anak yatim, mensejahterakan fakir-miskin, dan amar ma`ruf nahi munkar, hingga dalam jihad dan memimpin umat. Dialah puncak teladan dalam segala hal.

Artinya, jika kita ingin memahami misi dan tujuan utama Islam, maka lihatlah bagaimana pribadi agung ini mengamalkan Islam.

Lebih jauhnya, jika kita telusuri sejarah  kehidupan Muhammad Rasulullah, maka kehidupannya dipenuhi dengan akhlak mulia yang sangat tinggi.

Jauh sebelum     mengemban        tugas kenabian, Muhammad Rasulullah dikenal sebagai  penyembah Allah Yang Maha Esa, pejuang keadilan (beliau bergabung dengan Hilful Fudhul), dan dikenal sebagai hakim yang sangat bijaksana sehingga memperoleh gelar Al-Amin, suatu gelaran yang belum pernah disandang oleh seorang manusia pun di muka bumi selain disandang oleh Muhammad Rasulullah. Jauh sebelum diangkat menjadi Nabi, pribadi agung ini sangat anti kemusyrikan, sangat anti kezaliman, sangat anti diskriminatif, dan sangat anti tradisi-tradisi bobrok jahiliyah.

Dalam Surat 48/Al-Fath ayat 29 ditegaskan:

Muhammad itu adalah Rasulullah; dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang- orang kafir tetapi berkasih-sayang sesama mereka.  Kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.

Sepanjang sejarah, Nabi Muhammad Saw – demikian juga para pengikut setianya – sangat sibuk berjuang mengibarkan panji tauhid dan keadilan di tengah-tengah masyarakat manusia.

Pada siang hari Rasulullah Saw sangat sibuk berda`wah, mengajar Al-Quran dan Al-Hikmah, membersihkan jiwa manusia, berjuang menegakkan kesederajatan umat manusia, membebaskan perbudakan, menghilangkan beban-beban yang diderita umat manusia, beramar ma`ruf nahi munkar, dan berjihad melawan kemusyrikan, kekafiran dan kelaliman manusia.

Adapun pada malam harinya beliau sangat sibuk beribadah, berdzikir, shalat, beristighfar, berdo`a, merenungi nasib umat manusia, dan memikirkan solusi bagi pembebasan derita-derita manusia.

Dengan demikian, semakin jelaslah bahwa misi dan tujuan utama kenabian – yang sekaligus  sebagai misi dan tujuan utama Islam – adalah mengajak  manusia untuk beriman kepada Allah Yang Esa (sekaligus memberantas kemusyrikan) dan menegakkan keadilan di tengah-tengah masyarakat (sekaligus memberantas kelaliman).

No comments:

Post a Comment