Mu`jizat Rasulullah Saw selain Al-Quran

Mu`jizat Rasulullah Saw selain Al-Quran
Tentu saja pandangan mereka itu keliru, karena Nabi Muhammad Saw pun memiliki sejumlah mu`jizat selain Al- Quran.
Berubahnya makanan sedikit menjadi banyak di musim kelaparan dan terbelahnya bulan sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Qamar/54:1 adalah mu`jizat Nabi Terakhir selain Al-Quran. Isra` dan Mi`raj Nabi  juga termasuk mu`jizat? Surat Al-Isra'/17: 3 secara eksplisit mengatakan:
Maha Suci Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjid Al-Haram keMasjid Al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami.

Apakah ini bukan suatu peristiwa supranatural? Apakah ini bukan suatu mu`jizat? Demikian pula cerita tentang Nabi mempercayakan suatu rahasia kepada salah seorang istrinya, lalu istrinya itu membocorkan rahasia Nabi kepada salah seorang istrinya yang lain. Nabi bertanya pada istrinya itu, mengapa ia membocorkan rahasia kepada istrinya yang   lain?   Istrinya   bertanya   dengan   penuh   keheranan, bagaimana Nabi bisa tahu apa yang dipercakapkan oleh  kedua istri Nabi itu? Nabi menjawab, bahwa Allah-lah yang memberitahunya. Apakah ini bukan mu`jizat?
Adapun kasus permintaan mu`jizat dalam surat Al- Isra/17:90-93 bukan sebagai kasus sekelompok orang yang benar-benar meragukan kenabian dan menginginkan tanda- tanda dan bukti-buktinya. Ayat-ayat ini dan juga ayat 50 surat Al-`Ankabut menjelaskan logika khusus orang-orang musyrik dalam meminta mu`jizat-mu`jizat tersebut, dan logika khusus Al-Quran mengenai filsafat yang mendasari mu`jizat-mu`jizat para nabi.
Syaikh Murtadha Muthahhari dengan bagusnya menguraikan Qs Al-Isra/17: 90-93. Orang-orang musyrik mulai dengan kata-kata berikut:

"... kami tidak akan beriman kepadamu ..." Ini adalah logika orang musyrik dalam meminta mu`jizat.  Dengan kalimat lain, orang-orang musyrik itu berkata kepada Nabi:

"Kami tidak akan beriman atas kenabianmu dan tidak akan masuk ke dalam kelompokmu demi keuntunganmu, kecuali jika engkau, demi keuntungan kami, menjadikan mata air menyembur dari tanah Makkah yang tandus; atau engkau menjadikan sungai-sungai yang mengalir di dalam sebuah kebun yang penuh pohon-pohonan; atau engkau membangun sebuah rumah yang penuh dengan emas; atau engkau menjatuhkan sepotong langit ke atas kami, seperti yang engkau katakan akan terjadi pada hari kiamat; atau engkau undang Tuhan dan para malaikat; atau engkau naik ke langit dan membawa turun sepucuk surat yang dialamatkan kepada kami. "


Coba perhatikan dengan saksama logika orang-orang kafir tentang mu`jizat. Mereka meminta kepada Nabi untuk memancarkan air di tanah Makkah yang tandus. Ini adalah tawar menawar. Begitu juga permintaan dijadikannya sungai, kebun,  dan  rumah  emas,  merupakan  tawar  menawar agar mereka dapat menikmatinya. Sedangkan permintaan dijatuhkannya sepotong langit adalah permintaan siksaan, kematian, dan akhir segalanya, yang tentunya bukan hanya akan menimpa mereka, tapi juga akan menimpa seluruh orang yang beriman, yang tentunya tidak  mungkin permintaan seperti itu akan dikabulkan.
Adapun permintaan mengenai undangan untuk bercakap-cakap dengan Allah atau malaikat, atau diturunkannya sepucuk surat dari Allah kepada mereka, adalah permintaan akan kehormatan dan kebanggaan. Kasus permintaan mu`jizat dalam ayat-ayat ini adalah minta keuntungan harta dan kedudukan, bukannya permintaan mengenai bukti kebenaran. Tentu saja permintaan demikian tidak perlu dikabulkan.
Orang-orang musyrik, lanjut Muthahhari, tidak mengatakan: "Kami tidak akan beriman kepadamu kecuali jika kamu memperlihatkan sebuah mu`jizat khusus"; akan tetapi mereka mengatakan: "Kami tidak akan masuk ke dalam kelompokmu demi keuntunganmu". Jelas, pernyataan mereka ini adalah pernyataan jual beli pendapat atau dukungan; padahal Nabi tidak butuh suara.
Terdapat perbedaan antara "beriman dengan tulus" dan "menyerah". Para ulama Ushul Fiqh telah mengutip persoalan pelik yang sama mengenai Nabi dalam surat Al- Taubat/9:61):
"... Yang beriman kepada Allah dan tulus kepada orang- orang yang beriman". Lebih jauh tuntutan orang-orang musyrik tersebut dimulai dengan  kata-kata: "Jadikanlah mata air yang menyembur dari dalam tanah demi keuntungan kami". Ini jelas merupakan permintaan anugerah, bukan permintaan akan bukti dan mu`jizat. Nabi datang untuk mendakwahi orang- orang yang benar-benar mau beriman, bukan untuk membeli suara dan opini mereka dengan imbalan sebuah mu`jizat.

No comments:

Post a Comment